
Tulang Bawang Barat, harianelvanonews.com – Tangis haru mewarnai acara pelepasan Kelompok 12 KKK/PLP Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan pengabdian di Tiyuh Panaragan Jaya Utama, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Sabtu malam (5-9-2026)
Perpisahan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan tersebut menjadi momen emosional bagi mahasiswa maupun masyarakat. Selama menjalankan kegiatan, para mahasiswa tidak hanya melaksanakan program kampus, tetapi juga membangun kedekatan dengan masyarakat setempat.
Acara pelepasan dihadiri Kepala Tiyuh Panaragan Jaya Utama, Supriyanto, S.H., M.E., NL.P., beserta jajaran, pemuda-pemudi, masyarakat tiyuh, serta mahasiswa Kelompok 12 KKK/PLP UM Metro.
Dalam sambutannya, Ketua Kelompok 12 KKK/PLP UM Metro menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah menerima serta membantu mahasiswa selama menjalankan kegiatan.
“Terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat yang telah membantu dan menerima kami selama berada di sini. Kami juga memohon maaf apabila selama melaksanakan kegiatan terdapat kesalahan, baik dalam perkataan maupun perbuatan,” ujarnya.
Ia mengatakan, kebersamaan yang terjalin selama berada di Tiyuh Panaragan Jaya Utama menjadi pengalaman berharga yang akan terus dikenang para mahasiswa.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan KKK/PLP selesai, para mahasiswa kemudian menyampaikan izin untuk berpamitan kepada masyarakat.
“Pada akhirnya, kami izin pamit. Semoga silaturahmi yang telah terjalin selama ini tetap terjaga,” tuturnya.
Suasana perpisahan sempat mencair ketika adik-adik KKN mempersembahkan tari persembahan di hadapan masyarakat dan mahasiswa.
Tarian tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih atas sambutan dan kebersamaan masyarakat selama Kelompok 12 KKK/PLP berada di Tiyuh Panaragan Jaya Utama.
Sementara itu, Kepala Tiyuh Panaragan Jaya Utama, Supriyanto, S.H., M.E., NL.P., menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa UM Metro yang telah ikut berkontribusi dalam berbagai kegiatan di tengah masyarakat.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama menjalankan KKK/PLP dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat maupun perjalanan mereka ke depan.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan kontribusi adik-adik mahasiswa selama berada di Tiyuh Panaragan Jaya Utama. Semoga apa yang telah didapatkan selama di sini menjadi pengalaman dan bekal yang bermanfaat,” ujar Supriyanto.
Puncak Haru Saat Mahasiswa Sampaikan Kesan dan Pesan
Puncak haru terjadi saat sejumlah mahasiswa menyampaikan kesan dan pesan sebelum meninggalkan tiyuh.
Suara bergetar dan mata berkaca-kaca mengiringi ucapan terima kasih mereka kepada masyarakat yang selama ini telah memberikan perhatian, bantuan, serta menerima mahasiswa sebagai bagian dari keluarga.
Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada Kepalo Tiyuh Panaragan Jaya Utama beserta ibu dan keluarga, adik-adik, serta seluruh masyarakat yang telah menemani perjalanan mereka selama menjalankan kegiatan.
“Terima kasih kepada seluruh masyarakat Tiyuh Panaragan Jaya Utama yang sudah menerima kami dengan sangat baik. Terima kasih kepada Pak Kepalo, Ibu, serta adik-adik semua. Banyak sekali kenangan yang kami dapatkan selama berada di sini,” ujar salah seorang mahasiswa dengan suara penuh haru.
Tangis pun pecah.
Perpisahan tersebut menjadi gambaran bahwa waktu yang relatif singkat mampu melahirkan kedekatan dan ikatan emosional antara mahasiswa dengan masyarakat.
Bagi mahasiswa Kelompok 12 KKK/PLP UM Metro, Tiyuh Panaragan Jaya Utama bukan sekadar tempat menjalankan tugas akademik. Tiyuh tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan, pengalaman, dan kenangan yang akan mereka bawa setelah kembali ke lingkungan kampus.
Pelepasan tersebut sekaligus menandai berakhirnya perjalanan Kelompok 12 KKK/PLP UM Metro di Tiyuh Panaragan Jaya Utama.
Namun, berakhirnya kegiatan bukan berarti berakhirnya hubungan. Para mahasiswa berharap komunikasi, kekeluargaan, dan silaturahmi yang telah terbangun bersama masyarakat tetap terjaga.
“Berpisah bukan berarti berakhir, tetapi menjadi awal untuk menjaga silaturahmi dan kenangan yang telah terukir bersama.”
(Adi⁴⁹)












