Berita  

1.250 Penari Beraksi, Festival Melinting Jadi Panggung Kebangkitan Budaya Lampung Timur

LAMPUNG TIMUR, Harian Elvano news com— Festival Melinting 2026 menjadi panggung pelestarian budaya sekaligus penegasan identitas daerah Kabupaten Lampung Timur. Sebanyak 1.250 penari membawakan Tari Melinting secara massal di kawasan Wisata Embung Tirta, Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung, Senin lalu.

Penampilan kolosal tersebut menjadi simbol keberlanjutan warisan budaya Keratuan Melinting yang terus hidup dan diwariskan kepada generasi muda.

Festival ini bukan sekadar perayaan seni dan budaya, melainkan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Lampung Timur bersama masyarakat adat untuk menjaga tradisi, memperkuat identitas lokal, sekaligus mengembangkan potensi wisata budaya daerah.

Ribuan gerakan yang ditampilkan para penari menghadirkan keindahan sekaligus menegaskan bahwa Tari Melinting memiliki tempat penting dalam perjalanan kebudayaan Lampung Timur.

Keterlibatan pelajar dalam pertunjukan massal tersebut juga menjadi bukti bahwa pelestarian budaya perlu ditanamkan sejak dini, agar generasi muda tidak hanya mengenal tradisi leluhurnya, tetapi juga memiliki kebanggaan untuk meneruskannya.

Perjalanan Festival Melinting memiliki sejarah panjang. Cikal bakal kegiatan ini bermula dari Festival Tari Melinting I yang diselenggarakan di Desa Wana, Kecamatan Melinting, pada 8–9 Oktober 2011.

Saat itu, festival dibuka oleh Bupati Lampung Timur Erwin Arifin di Lapangan Kecamatan Melinting, Desa Wana. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal dalam menyediakan ruang bagi masyarakat untuk menampilkan sekaligus melestarikan Tari Melinting sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

Pada 16–18 September 2012, kegiatan berkembang dengan nama Festival Budaya Daerah Melinting II. Tari Melinting tetap menjadi pertunjukan utama, disertai arak-arakan budaya dan lomba Tari Melinting tingkat SLTP dan SLTA se-Kabupaten Lampung Timur. Kegiatan ini dibuka oleh Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Iwan Nurdaya.

Perjalanan berlanjut pada 2013 melalui Festival Tari Kreasi Melinting III di Lapangan Bandar Sribhawono. Festival tersebut menghadirkan lomba Tari Kreasi Melinting tingkat SLTP dan SLTA serta dibuka secara resmi oleh Asmara Dewi Erwin Arifin.

Pada 2014, Festival Budaya Daerah Melinting kembali digelar di Lapangan Bandar Sribhawono dengan perhatian yang semakin luas, ditandai kehadiran Gubernur Lampung Sjahroeddin ZP.

Setelah mengalami kendala dokumentasi pada 2015, Festival Melinting kembali diinisiasi pada 17 April 2016 melalui Festival Melinting VI di kawasan Taman Purbakala Pugung Raharjo. Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Bupati Lampung Timur Chusnunia, didampingi Ratu Melinting dan Puteri Indonesia 2016.

Rangkaian perjalanan ini memperlihatkan bagaimana sebuah kegiatan berbasis kesenian tradisional berkembang menjadi ruang pelestarian budaya yang memiliki arti penting bagi masyarakat Lampung Timur.

Babak baru Festival Melinting dimulai ketika Melinting Fest VII diselenggarakan di Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung.

Sejak itu, festival mulai dikemas lebih terstruktur oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Timur dan masuk dalam Calendar of Event daerah. Penyelenggaraannya diarahkan menjadi agenda tahunan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian budaya, tetapi juga mendukung promosi pariwisata dan menggerakkan perekonomian masyarakat.

Berbagai kekayaan budaya ditampilkan dalam festival, mulai dari tari massal, pertunjukan Muli Mekhanai, seni lintas budaya, hingga pameran kerajinan dan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Festival ini juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kuliner khas Melinting, salah satunya gulai pengecangan, yang telah ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kehadiran pertunjukan seni dari berbagai latar budaya, termasuk tari Jawa, memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi lokal dapat berjalan beriringan dengan keberagaman. Budaya Melinting tetap menjadi identitas utama, sekaligus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lampung Timur yang majemuk.

Festival Melinting tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan kebudayaan dan pembangunan daerah.

Keterlibatan pelajar, komunitas seni, masyarakat adat, pelaku UMKM, serta berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi ruang bersama untuk memperkuat persatuan sekaligus membuka peluang ekonomi.

Melalui penyelenggaraan yang berkelanjutan, Festival Melinting berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya Lampung Timur. Wisatawan tidak hanya dapat menikmati pertunjukan seni, tetapi juga mengenal sejarah Keratuan Melinting, kesenian tradisional, kuliner khas, kerajinan, serta produk unggulan masyarakat setempat.

Dengan demikian, festival ini dapat menjadi penghubung antara pelestarian warisan leluhur dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa pengembangan festival tetap berpijak pada nilai-nilai adat yang menjadi jati dirinya. Inovasi dalam penyelenggaraan perlu terus dilakukan agar festival semakin menarik bagi masyarakat luas, tanpa menghilangkan makna dan keaslian tradisi Melinting.

Ketika budaya dikenalkan kepada generasi muda, ditampilkan di ruang publik, dan mendapat tempat dalam pembangunan daerah, warisan leluhur tidak sekadar dikenang sebagai sejarah, tetapi terus hidup dan berkembang mengikuti zaman.

Festival Melinting menjadi bukti bahwa budaya yang berakar kuat pada tradisi dapat tumbuh menjadi identitas bersama, sekaligus melangkah sebagai ikon budaya dan daya tarik wisata Kabupaten Lampung Timur.

(Deki)